0
BLORA, PKS Blora Online - Hari – hari ini, media massa didominasi oleh berita bencana, khususnya banjir. Terutama di Jawa dan Sumatra. Ada baiknya kita mengambil pelajaran dari kisah bencana yang diabadikan dalam Al Qur’an. Kisah banjir besar yang dialami kaum terdahulu, yaitu kisahnya Nabi Nuh.

Nabi Nuh adalah salah seorang pelaut yang sangat terkenal, selain Sinbad dan Popeye. Bagaimana Nabi Nuh mengamalkan konsep  siaga bencana?

Pertama, Pesan Keselamatan

Nabi Nuh tahu benar bahwa perbuatan dosa dan maksiat akan mengundang bencana dan azab. Melihat kaumnya yang menyembah berhala, beliau menyeru pesan – pesan keselamatan, yaitu memperbanyak istighfar serta menghentikan penyembahan berhala.

Kita harus sering menyerukan pesan – pesan keselamatan baik dilingkungan rumah maupun ditempat kerja. Agar tidak membuang sampah sembarangan, menebang pohon dan membakar hutan, merusak alam dll.

Termasuk pesan – pesan keselamatan adalah agar kita menggunakan peralatan safety ditempat kerja serta menjauhkan bahan – bahan yang berbahaya dan mudah terbakar.

Termasuk pesan keselamatan adalah agar kita menjauhi perilaku maksiat dan perbuatan dosa, seperti mabuk dan judi, zina dan LGBT, durhaka dan senang melaknat dll.

Kedua, Menyiapkan Alat

Nabi Nuh mengetahui bahwa kaumnya akan di azab dengan banjir besar. Sebagai seorang tukang kayu, beliau mampu membuat kapal. Inilah salah satu bukti bahwa Nabi Nuh sudah memiliki pengetahuan modern tentang teknik perkapalan. Bukan sekedar perahu bercadik, tapi bahtera yang sangat besar untuk menampung manusia dan hewan yang ada, sepasang – sepasang.

Kita harus mengantisipasi potensi bencana yang ada dengan peralatan yang menunjangnya. Banjir besar diatasi dengan kapal. Banjir kecil diatasi dengan normalisasi sungai, perbaikan sistem drainase dan reboisasi. Bencana kebakaran berarti harus sedia alat pemadam, hidran dll. Dan seterusnya.

Alat harus tersedia sebagai sarana mengantisipasi bencana serta menurunkan tingkat kerentanan. Kondisi siap siaga seperti ini sering diistilahkan sedia payung sebelum hujan. Masalahnya, dalam kondisi normal kita sering lalai. Dan baru ketika bencana datang, kita kalang kabut karena ketiadaan alat atau tidak berfungsinya alat yang ada.

Ketiga, Melakukan Evakuasi

Setelah kapal jadi, Nabi Nuh melakukan evakuasi secara umum. Namun, hanya sedikit saja yang menyambut ajakannya. Bukan hanya mengevakuasi manusia, Nabi Nuh juga mengevakuasi binatang, sepasang – sepasang.

Jadi saat bencana datang, kita harus mengevakuasi diri, bukan malah berdiam diri. Ini adalah ikhtiar untuk menjemput takdir Allah, bukan untuk melarikan diri dari takdir Allah. Di beberapa kejadian, timbul korban jiwa karena penduduk yang berada dilokasi bencana lebih memilih tetap bertahan daripada mengungsi.

Selain menyelamatkan diri, kita juga berupaya untuk menyelamatkan orang lain, harta benda dan binatang karena kita memang memiliki hajat hidup kepadanya. Meski harta benda penting, tapi nyawa jelas lebih penting.

Keempat, Bersama Orang Shalih

Semua orang beriman naik dalam kapalnya Nabi Nuh dan mereka selamat. Sedangkan kaum yang kafir, termasuk anaknya Nabi Nuh lebih senang mencari pertolongan keluar. Akhirnya mereka binasa semuanya.

Point ini sungguh sangat penting. Jika terjadi bencana, maka berkumpullah dengan orang – orang shalih. Kumpul di masjid atau dipenampungan pengungsi yang berisi orang – orang shalih. Kisah – kisah keajaiban ditengah bencana belum hilang sampai sekarang. Di Aceh saat Tsunami ratusan rumah hilang tapi ada masjid yang tetap utuh. Dan sebagainya.

Bersama dengan orang shalih berarti kita bisa ikut berdoa bersama, mengambil hikmah dari bencana serta diberi petunjuk untuk bangkit melanjut kan episode kehidupan. Sedang jika bersama orang fasik, kita khawatir akan terjerumus dalam perbuatan dosa atas nama upaya tolak bala dan hati semakin goncang dengan aneka ramalan.

Khatimah

Itulah diantara konsep siaga bencana dari kisah Nabi Nuh. Bencana memang memiliki beragam perspektif, baik dari kacamata keimanan maupun hukum alam. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, agar semakin eling lan waspada.

Penulis: Eko Jun

Posting Komentar

 
Top