0
Gambar diambil sebelum pandemi COVID-19



Oleh : SBS

Aktivitas sosial politik yang saya jalani menjadi sarana untuk mengenal, berkawan dan bahkan menjadi seperti saudara dengan banyak orang. Berbagai latar belakang, karakter dan wilayah.

Aset berharga dalam kehidupan adalah pertemanan dan persaudaraan. Sesungguhnya  kedekatan emosional adalah faktor utama dalam menguatkannya. Materi bukan jaminan dan ukuran, mungkin bagi sebagian orang terdengar terlalu ideal dan mengada-ada, apalagi jaman sekarang tetapi saya merasakan dan membuktikannya.

Kehangatan yang kita tunjukkan dengan cara sering hadir membersamai mereka menjadi hal yang tidak ternilai harganya.

Suatu ketika kawan yang juga tim sukses saya saat pemilu datang menemui saya.Dia sempat kecewa dengan warga karena perolehan suara saya di kampungnya jauh dari harapannya. Kampanye cerdas, kontributif dan bermanfaat  yang dilakukan kalah dengan cara instan dan pragmatis.Pasca pemilu saat saya menawarkan bakti sosial di wilayahnya justru dia menolaknya. 
“ Saya malu sama jenengan pak, saya masih kecewa dengan warga kampung …” kurang lebih seperti itu alasan yang disampaikan. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu memikirkan hasil pemilu kemarin itu.

Rupanya dia sekarang  sudah move on, buktinya dia datang untuk diskusi mencari solusi berkaitan dengan  tentang program kegiatan sosial di kampungnya. Bagi dia urusan seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa. Banyak hal yang berurusan dengan kepentingan banyak orang dia yang urus.Orang sekampung juga tahu, yang paling sibuk dan banyak berkorban juga dia.

Diantara teman saya yang tersebar di berbagai desa mempunyai karakteristik seperti ini. Supel, perhatian, ringan tangan dan beberapa mempunyai jabatan pada organisasi sosial masyarakat.Saya merasa terbantu dengan keberadaan mereka.Mereka seperti menjadi agen saya di wilayahnya. Dijembatani mereka, komunikasi dengan warga masyarakat  menjadi efektif. Sebagai orang politik apalagi wakil rakyat, menjaga  kebersamaan dengan masyarakat menjadi tuntutan dan kebutuhan. 

Rasa percaya kepada mereka membuat saya tenang dan nyaman jika harus membantu dengan proyek sosial di masyarakatnya. Biasanya hasilnya bagus memuaskan di atas standa. Biaya murah hasil melimpah.

Sekian tahun yang lalu di beberapa tempat yang rawan kekeringan saat musim kemarau, di antara mereka  menginisiasi untuk membangun jaringan air bersih bagi warga sekitar.  Selain  saya bantu akses dana dari pihak luar ,ada swadaya dari masyarakat. Kapasitas leadership dan volunteerisme mereka terlihat  paling menonjol. Hambatan dan tantangan yang ada menambah aksi heroik. Dengan segala keterbatasan  mereka harus menerapkan teknologi tepat guna. Yang paling penting, hasil kegiatan sangat dirasakan manfaatnya. Selama berpuluh-puluh tahun, saat musim kemarau mereka mesti susah payah mendapatkan air bersih. Sekarang  tidak lagi karena di setiap RT sudah ada tampungan air bagi warga yang membutuhkan. Ini sedikit cerita dari prestasi pergerakan . Kelak, bangunan fisik yang ada menjadi prasasti kepedulian.

Beberapa kali saat terlibat menjadi relawan pada aksi dari lembaga kemanusiaan, yang sifatnya charity ataupun pemberdayaan saya  ajak mereka gabung. Yang saya saksikan seolah mereka tidak peduli tidak penting dirinya akan mendapat  apa tetapi prinsipnya yang penting masyarakat mendapat manfaat dari program kegiatan. 

Permasalahan yang menjadi hajat hidup masyarakat  seringkali terjadi “pembiaran” . Bisa jadi usia masalah sebanding dengan sejak terbentuknya komunitas masyarakat setempat. Pun dari pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab. Rezim datang silih berganti ,tidak kunjung ada solusi. Jika hanya saling menunggu dan menuntut pasti tidak akan ada perubahan. 

Sesungguhnya potensi yang ada pada masyarakat bukan tidak ada tetapi butuh aksi orang yang menghibahkan dirinya sebagai agen perubahan untuk menggerakkan. Sekecil apapun tekad dan usaha pasti ada manfaatnya.
Alhamdulillah

Posting Komentar

 
Top