0


Depok, PKS Blora Online - Mendekati pentas politik di kancah daerah tahun 2017 mendatang, Calon pemimpin diingatkan untuk meningkatkan moralitasnya. Hal tersebut disampaikan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman di hadapan Peserta Seminar Nasional di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Senin (29/08/2016).
Sohibul Iman menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang ditunggu oleh Indonesia adalah pribadi yang memiliki sisi transendensi, pribadi yang bertransformasi karena iman kepada Allah. Sehingga ia menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia, sebagaimana ketika melihat seorang pendakwah seperti melihat sebuah ketinggian benteng yang kokoh.
"Jangan sampai kita disibukkan dengan perkara yang jauh-jauh dari keimanan, sebagai orang yang beriman harus mengarah ke akhlak yang mulia. Untuk itu moralitas sangat penting, kita harus punya moralitas lebih baik. Naiknya derajat kita bukan diberi begitu saja oleh Allah tapi harus ada proses pendakian," ujarnya.
Di tangan pemimpin yang punya moralitas baik, lanjut mantan wakil ketua DPR RI ini dalam acara yang diprakarsai Fraksi PKS DPR RI dan BPKK DPP PKS menegaskan bahwa aset negara akan aman dan dijaga dengan baik.
"Aset negara tidak mungkin dikorupsi oleh pemimpin bermoralitas baik, dia akan menjaganya dengan baik. Aset negara pasti akan aman dan tidak dijual murah begitu saja," cetusnya.
Lebih lanjut Sohibul mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang unggul dan berkualitas, diperlukan juga intelektual yang mampu untuk bersinergi dengan moralitas. Sebab menurutnya, moralitas saja tidak cukup jika ingin bergerak mencapai tujuan kepemimpinan. 
"Bagaimana cara mencapainya? Maka dibutuhkan adanya intelektualitas. Moralitas saja tidak cukup jika intelektualitas tidak jalan. Lembaga, organisasi atau negara yang dipimpinnya tidak akan maju. Menjadi pemimpin nasional harus punya kepribadian yang unggul," ucap Sohibul.
mantan rektor Universitas Paramadina ini mengatakan, selain moralitas dan intelektual, sosok pemimpin juga harus menjadi orang yang sangat humanis.
"Ketika sudah menjadi pemimpin jangan menciptakan jarak, jangan sampai hilang sisi humanisnya. Pemimpin harus menyatu dengan yang dipimpinnya, dengan rakyatnya," ujarnya.
Namun humanis tanpa ketegasan, maka seorang pemimpin akan menjadi orang yang sangat permisif.
"Humanis saja tanpa ketegasan akan menjadi permisif. Ketegasan itu sangat penting dan dibutuhkan. Tapi ketegasan saja tanpa humanisme akan menjadi sosok yang 'killer'," pungkas Sohibul. 
( Tupri/Haa )

Posting Komentar

 
Top