0


Oleh : SBS

Mendekati kontestasi pilkada riuh diskusi  politik kian terasa mewarnai setiap obrolan . Online maupun offline. WA group maupun warkop. 

Mencari pemimpin yang layak dan mumpuni membawa perubahan. Bakal kandidat dijagokan serta dimunculkan dengan label terbaik melalui jargon dan visi yang ditawarkan. Yang pasti menggiurkan. Semua ingin berkontribusi untuk perbaikan dan kesejahteraan.

Pembelahan tidak terelakkan . Seru perdebatan diiringi dengan adu teori dan argumentasi.  Suasana panas dan menegang terasa saat emosi tidak terkendali. Apalagi jika faktor  like and dislike  membutakan hati. Yang kerap terjadi  adalah  bagi yang suka "tai  ayam rasa coklat" Bagi yang tidak suka "coklat rasa tai ayam"

Dengan berbagai alasan orang mengambil peran dalam kontestasi.  Aktif memperjuangkan atau sekedar memberikan dukungan. Bisa atas dasar idealisme atau mungkin pragmatisme. Kelak perilaku politik akan menuai stigmaisasi.

Partai politik harus memahami konstalasi, sadar posisi, pro aktif komunikasi cari persamaan persepsi jika diperlukan bentuk koalisi. Kadang harus meliuk cantik untuk tampil meyakinkan dan berpadu besinergi menguatkan.

Ojo kagetan lan gumunan. Politik penuh teori kemungkinan. Yang dipermukaan belum tentu yang diniatkan. Yang begaya sok netral pun belakangan ketahuan mempunyai agenda untuk sebuah dukungan.

Di alam demokrasi siapapun boleh beropini untuk menawarkan pilihan dengan syarat tidak keluar batasan regulasi. Juga saat menggalang dukungan. Bagi kekuatan politik maupun perorangan yang tidak se ide dan sejalan seharusnya melawan dengan cara yang dibolehkan. Adu narasi dan gagasan adalah cara ideal yang santun sekaligus mencerdaskan.

Di alam demokrasi perbedaan pendapat dan pilihan adalah sebuah kewajaran. Justru inilah ujian untuk mengukur tingkat kematangan yang tercermin dalam fikiran, ucapan dan tindakan. Intimidasi dan pemaksaan  menjadi indikasi ketidakdewasaan.

Acapkali, dengan dalih demokrasi orang mudah menghakimi, menyerang langkah politik lawan yang berseberangan. Seolah yang benar adalah yang sefaham dengan dirinya. Demokrasi adalah yang memihak pilihannya. Padahal adalah bebas orang melakukan sebuah tindakan selama tidak ada norma hukum yang dilanggar dan diabaikan.

Bersikap demokratislah saat anda berjuang untuk demokrasi. Agar jargon demokrasi bukan sekedar teori...
Lanjut
Ini adalah tulisan paling baru.
Kembali
Posting Lama

Posting Komentar

 
Top