0


Ketua DPD  Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kab Blora, Santoso Budi Susetyo, SSos 



 Oleh : Santoso Budi Susetyo, SSos

Membaca buku "millennials kill everything" serasa membaca  invetarisasi tentang perubahan jaman. Sesuai judulnya buku ini berbicara tentang kehidupan generasi yang lahir antara tahun '80an sampai 90'an. Banyak ditulis tentang perubahan dan pergeseran yang cukup tajam dari penggunaan sarana, teknologi bahkan sampai perilaku juga tata nilai dalam kehidupan. Banyak alat berbasis teknologi informasi yang semakin sedikit digunakan bahkan bisa jadi akan hilang dalam kurun waktu tertentu.  Radio, televisi, fasyen digantikan dalam satu perangkat yang disebut smartphone.

Banyak kajian dan advis tentang penggunaan smartphone ini, sisi positif dan negatif sudah sering disampaikan di banyak tulisan. Yang positif tentu tidak ada masalah, yang menjadi kegelisahan adalah sisi negatif yang  menuntut kita harus bijak dalam memberikan fasilitas ini terutama bagi anak anak kita yang masih di bawah umur, tentu harus ada pembatasan dan pendampingan.

Smartphone menyediakan semua kebutuhan informasi dan komunikasi yang sifatnya visual, audio dan aplikasi yang memudahkan dalam banyak hal . Komunikasi suara maupun teks diberikan fitur yang lebih menarik dan cepat. Akses informasi cepat dan mudah, transaksi lebih mudah, tidak harus ketemu fisik dan tidak harus pakai uang cash, semua bisa dilakukan pakai smartphone.Intinya  banyak kemudahan di dapat di smartphone. Millennials bisa menjadi multitasking, melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan dan singkat.

 Hegemoni smartphone berbanding lurus dengan pergeseran visi dalam hidup dibanding generasi sebelumnya. Soal materi misalnya, generasi sebelumnya melihat kepemilikan asset adalah sebuah prestise tapi kaum millennials tidak demikian, mereka berorientasi pada memanfaatkan dan menikmati asset yang bukan miliknya, bagi mereka ini lebih efisien untuk mendapatkan kenyamanan.  Grab car, go jek, go food, go pay dan go go yang lain sangat familiar  dalam kehidupannya. Millennials berfikir simple praktis dan egaliter.
Di sisi lain dampak negatif mengancam kehidupan sosial mereka, tidak siap dan cakap berhadapan dengan banyak orang secara langsung karena terbiasa terkoneksi dan komunikasi via online. Hal hal penting dalam pergaulan jadi berkurang, misal kontak mata, bahasa tubuh, dan ekspresi menjadi tidak maksimal padahal hal hal tersebut penting sebagai manifestasi perhatian dan kasih sayang. Apalagi budaya timur sangat menuntut hal hal demikian dalam pergaulan.

Bukan sesuatu yang berlebihan jika ada kekhawatiran  generasi ini menjadi anti sosial, mereka terbiasa sendiri dan mandiri dalam membangun kehidupan sosial.
Padahal dalam teorinya, kecerdasan emosional sangat dipengaruhi nilai nilai tersebut, sedangkan kesuksesan banyak dipengaruhi kecerdasan emosional. Fenomena yang kita lihat hari ini mengkonfirmasi betapa smartphone bisa mengubah sedemikian dahsyat kehidupan, millennials adalah pemilik resmi orde smartphone.

Kita harus proposional dalam menyikapi realita, smartphone dengan segala fasilitas dan fiturnya menjadi tuntutan, di sisi lain ekses negatif menjadi ancaman serius bagi kehidupan generasi kita. Tentunya menjadi hal yang tidak ringan menghadang arus negatif dari smartphone ini. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin bersikap bijak dalam memberikan fasilitas, pendampingan, serta terus memberikan nutrisi berupa tata nilai positif bagi kehidupan generasi kita. Semoga kita dimudahkan menjawab tantangan ini.

Posting Komentar

 
Top